Postingan

Kami

Gambar
Salah satu bagian dari yang satu ini . — Jangan tanya, jangan sentuh rahasianya. Salah seorang makhluk Tuhan sedang meringkuk di pojok ruangan, berusaha keras membuat netranya terpejam. Orang itu menutup kedua telinga, menekan benda itu kuat-kuat. Takut. Entah apa, dirinya terancam. Manusia bodoh, manusia gila, manusia pembawa sial. Ini salahnya sendiri, ini karma, ini buah perbuatannya. Salah, ini bukan salahnya. Sosok itu berteriak dalam diam, memaki-maki, melontarkan sumpah serapah. Dia tidak sepenuhnya salah. Orang-orang abai, enggan mendengarkan. Dimana letak percaya? Dia bingung. Salahnya? Semua? Bahkan saat sudah menjadi korban? Dia putus asa. Omong kosong. Sudah pernah dijelaskan bahwa dunia ini penuh tipu daya. "Kamu kenapa?" Nadanya khawatir. "Sakit. Harusnya kamu tidak perlu bertanya." "Yang mana? Bagaimana bisa? Mau ke dokter?" Helaan napas panjang keluar. Muak. "Jangan pura-pura, menjijikan." Seringai muncul, diikuti tawa...

Angkara

Gambar
— "Mau pulang?" Suaranya masih terdengar asing. Arya menggeleng sebagai jawaban. Sedikit memaksa agar senyum terpatri di bibirnya. Untuk gadis paling sempurna, Arya terlalu pengecut. Asing. Kata yang tiap hari berdengung di telinga, memenuhi otak berdebu miliknya. Orang-orang tidak bercanda saat mengatakan Arya itu bodoh. Arya dan segudang hal rumit, sudah biasa. Arya memang bukan manusia sempurna, tetapi kebodohannya terlalu paripurna. Seolah bisa berpikir, pikirnya membawa bahagia, hatinya akan suka. Bohong. Di akhir, yang Arya bawa hanya lara. Kepalanya yang keras itu lupa bahwa masih ada duka.  "Maaf, saya belum bisa jadi rumah. Kita sudahi, ya?" Padahal, jiwanya yang menyerah. Teruntuk gadis paling sempurna, maaf. Arya meminta maaf karena torehkan luka. Pukul saja dia, pukul tepat di ubun-ubun. Jangan lupa tendang perutnya. "Saya antar pulang, ayo siap-siap."  Sudah dikatakan, Arya terlalu brengsek bila menyangkut rasa insan lainnya.